Perancis dan Indo-Pasifik [fr]

Seperti yang pernah ditegaskan kembali oleh Presiden Republik Perancis dalam pidatonya tentang strategi Perancis di Indo-Pasifik, pada tanggal 23 Oktober lalu di Pulau Réunion, Perancis merupakan kekuatan pesisir di kawasan Indo-Pasifik.

Di kawasan tersebut yang akhir-akhir ini menjadi tempat munculnya berbagai krisis, ketegangan dan perdagangan gelap secara terus-menerus, Perancis merasa berkomitmen penuh dan, lebih dari sebelumnya, ingin bertindak bersama semua mitranya, untuk mengatasi beragam tantangan yang dihadapi baik oleh negara kita, maupun oleh negara-negara anggota ASEAN. Para mitra tersebut adalah negara-negara yang, seperti kita, mendukung multilateralisme dan tatanan internasional yang didasarkan atas hukum, dan yang berupaya menjadikan dunia lebih aman berdasarkan tata kelola global yang inklusif.

Bagi Perancis, Indo-Pasifik merupakan sebuah realitas geografis, kemanusiaan, strategis dan ekonomi, mengingat posisi Perancis yang berada di dua Samudra, dengan lima Teritori dan Departemen Seberang Lautan (Kaledonia Baru, Polinesia Perancis, Wallis & Futuna, Reunion dan Mayotte).

Lebih dari satu setengah juta warga Perancis hidup di sana. Secara keseluruhan, wilayah laut kawasan-kawasan ini meliputi 11 juta Km2, lebih dari dua pertiga luas Zona Ekonomi Eksklusif Perancis, terluas kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Ini merupakan kawasan tempat kami memelihara sejumlah sarana signifikan yang berkontribusi pada keamanan wilayah. Sekitar 8000 personil pertahanan ditempatkan di seluruh wilayah ini, menjadikan Perancis sebagai satu-satunya kekuatan Eropa yang secara aktif hadir di Pasifik dan juga di Samudera Hindia.

Perancis juga memiliki hubungan penting di bidang ekonomi dengan Indo-Pasifik. Wilayah ini menyimpan 35% kekayaan dunia saat ini. Di tahun 2018, 9,3% impor Perancis berasal dari wilayah Indo-Pasifik dan 10,6% ekspornya ditujukan ke sana.

Perancis yang adalah anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, mempromosikan Indo-Pasifik sebagai sebuah kawasan yang bebas, terbuka dan inklusif, dimana Perancis ingin mencoba bersinergi dengan para pemain utama di wilayah tersebut dan meningkatkan kerja sama pada tatanan politik, strategis, ekonomi, dan bahkan lingkungan hidup.

Di Indo-Pasifik, Perancis ingin berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi, dengan memperkuat kemitraan di tiga sektor yang sepenuhnya sejalan dengan prioritas-prioritas Indonesia dan ASEAN (kerja sama maritim, konektivitas, pembangunan berkelanjutan, ekonomi) :

- Perdamaian dan stabilitas regional : Indo-Pasifik harus terus menjadi ruang kebebasan dan kedaulatan yang saling menghormati satu sama lain. Perancis memainkan peranannya sepenuhnya, dengan cara mendorong penyelesaian krisis melalui dialog dan penetapan langkah-langkah yang membangun kepercayaan. Perancis bersama-sama dengan para mitra kawasannya berkontribusi terhadap keamanan dan stabilitas wilayah, melalui pemberantasan perdagangan ilegal (narkotika, penyelundupan manusia, penangkapan ikan illegal), pembajakan, serta terorisme dan radikalisasi yang mengancam wilayah;

- Pembangunan berkelanjutan : Melanjutkan pembangunan manusia tanpa merusak kekayaan alam merupakan tantangan yang krusial. Pembangunan infrastruktur berkualitas baik itu untuk konektivitas maritim yang lebih baik, mobilitas perkotaan yang lebih efektif maupun untuk transisi menuju energi terbarukan merupakan hal yang pokok, demi menjamin keberlangsungan pembangunan jangka panjang. Pelestarian dan pemberdayaan keanekaragaman hayati di darat maupun di perairan penting untuk melindungi planet kita. Upaya menanggulangi perubahan iklim menjadi pertarungan global, melalui penandatanganan Kesepakatan Paris yang diratifikasi oleh semua negara yang berada di wilayah Indo-Pasifik. Terkait dengan permasalahan ini, Perancis siap memberikan bantuan keahlian dan pendanaannya. Dari Pulau Reunion sampai Indonesia, melalui India dan Vietnam, Badan Perancis untuk Pembangunan (AFD), memberikan bantuan keuangan yang besar dan menyediakan keahlian serta pengalaman internasional untuk pengembangan energi terbarukan : energi surya, bayu, hidroelektrik…. Perancis juga berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan ekonomi biru, terutama di Indonesia, dimana Perancis membiayai sejumlah program untuk mendukung pemberantasan penangkapan ikan ilegal, peningkatan kinerja pelabuhan laut, pengembangan meteorologi laut dan dalam waktu dekat penelitian oseanografi serta pengelolaan sampah plastik di laut.

- Kerja sama ekonomi : Poros yang berkaitan erat dengan agenda pembangunan berkelanjutan ini menyasar pembangunan, peningkatan konektivitas serta pengembangan infrastruktur fisik dan digital di wilayah yang sangat membutuhkannya. Perusahaan-perusahaan Perancis dapat memainkan peranan penting dalam konektivitas wilayah, terutama di bidang perhubungan laut, infrastruktur pelabuhan, bandar udara dan jalan raya, telekomunikasi melalui satelit dan jaringan kabel bawah laut. Berkat pengalaman mereka dalam skema konsesi atau KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha), mereka dapat menawarkan solusi pembiayaan yang inovatif. Aspek ekonomi juga mencakup pengembangan pendidikan kejuruan / universitas dan penelitian yang berkontribusi pada peningkatan modal sumber daya manusia. Di Indonesia pendirian pusat unggulan pendidikan kejuruan di bidang kelistrikan, otomatisasi dan energi baru dan terbarukan merupakan model rintisan kemitraan pemerintah dan swasta yang diharapkan dapat melatih 500 orang tenaga pengajar dan lebih dari 100 ribu murid hingga tahun 2022. Perancis akhirnya mendukung penelitian ilmiah tingkat tinggi dan inovasi teknologi melalui mekanisme pendanaan bersama yang berkelanjutan (program Nusantara) dan sekitar seratusan kesepakatan antar-universitas untuk program diploma ganda dan kegiatan penelitian / riset.

Kerja sama yang secara nyata mewujudkan komitmen kami terhadap Indo-Pasifik ini, diikuti dengan peningkatan keikutsertaan Perancis di lembaga-lembaga regional : di Samudera Hindia, IORA (Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia) yang menjalin kemitraan dengan Perancis sejak tahun 2001 ; Forum Penjaga Pantai Asia (HACGAM) yang baru saja menerima Perancis sebagai pengamat untuk pertama kalinya pada tahun ini ; dan kesepakatan ReCAAP (Kerja Sama Regional Melawan Pembajakan dan Perompakan Bersenjata) yang Perancis ingin ikuti. Di sisi Pasifik, Perancis adalah anggota dialog Post-Forum Kepulauan Pasifik sejak tahun 1989, dan anggota sekaligus pendiri Masyarakat Pasifik (SPC).

Dalam hal ini, bagi Perancis ASEAN memegang peranan sentral dalam strategi tersebut. Negara kami merupakan salah satu penandatangan pertama Traktat Persahabatan dan Kerja Sama Bali. Badan Perancis untuk Pembangunan (AFD) telah mendukung 150 proyek, dan menggelontorkan 4 miliar Euro sejak tahun 2010 untuk membiayai proyek pembangunan berkelanjutan ASEAN. Sejak saat ini, kami berharap untuk dapat melangkah lebih jauh dan mempererat hubungan kami dengan ASEAN, dengan merujuk pada keanggotaan kami sebagai pengamat pada ASEANAPOL, dan juga pencalonan kami sebagai mitra pembangunan ASEAN serta sebagai pengamat pada kelompok kerja “keamanan maritim” dan “operasi penjaga perdamaian” di ADMM+.

Kepentingan kami yang konvergen terutama di sektor maritim dalam arti luas, terkait dengan konektivitas dan infrastruktur, ataupun pembangunan berkelanjutan, mendorong Perancis untuk menjalin kerja sama lebih erat dengan negara-negara ASEAN sesuai dengan kerangka « Outlook on the Indo-Pacific » yang disepakati pada akhir Juni 2019, saat berlangsung KTTnya yang ke-34.

Tantangan-tantangan yang kini dihadapi kawasan tersebut semakin membutuhkan tindakan kolektif, kerja sama internasional, multilateralisme dan juga visi global, selama jawaban-jawaban yang dihasilkan saling menunjang. Inilah arti yang terkandung dalam strategi Perancis di Indo-Pasifik. Di kawasan yang fundamental bagi stabilitas dunia ini, Perancis dan Indonesia harus bertindak bersama-sama/.

What France wishes to do in the IndoPacific

As President Emmanuel Macron reaffirmed at Reunion Island on Oct. 23 in his speech setting out the French strategy in the Indo-Pacific, the French Republic is an Indo-Pacific country.

In this space where we can see the emergence of a continuum of crises, tensions and trafficking, France feels fully committed and intends more than ever to act in close cooperation with all its partners — those who share its values, who support multilateralism and law-based international order, and work toward a safer world, based on inclusive global governance — to address the multiple and common challenges that our country and ASEAN members face.

For France, the Indo-Pacific is a geographic, human, strategic and economic reality because of its presence in the two oceans with its five overseas territories — New Caledonia, French Polynesia, Wallis and Futuna, Reunion Island and Mayotte.

More than 1.5 million French citizens live in that area. The cumulative maritime space of these territories represents about 11 million square kilometers, over two-thirds of the French exclusive economic zone, the second-largest in the world after the United States. It is a space in which we maintain a strong military presence that contributes to regional security. Some 8,000 defense personnel are stationed throughout the area, making France the only European power actively present not only in the Pacific but also in the Indian Ocean.

France also has important economic links with the Indo-Pacific, an area that accounts for more than 35 percent of the world’s wealth. In 2018, 9.3 percent of French imports came from the Indo-Pacific region and 10.6 percent of its exports were destined for it.

France, a permanent member of the United Nations Security Council, promotes a free, open and inclusive Indo-Pacific space in which it intends to seek synergy with major players in the region and consolidate political, strategic, economic or even environmental cooperation.

In the Indo-Pacific, France intends to contribute to peace, stability and growth by strengthening its partnerships in three sectors fully in line with the priorities of Indonesia and ASEAN (maritime cooperation, connectivity, sustainable development and economy):

  • Regional peace and stability: The Indo-Pacific must continue to be an area where the freedom and sovereignty of all countries is respected. France fully plays its role in this area by encouraging crisis resolution through dialogue and the establishment of confidence-building measures. It contributes, in cooperation with its regional partners, to regional security and stability by fighting trafficking in drugs, human beings and illegal fishing, piracy, terrorism and radicalization that threaten the region;
  • Sustainable development: Pursuing human development without threatening natural resources is a crucial issue. The development of quality infrastructure, whether for better maritime connectivity, more efficient urban mobility or transition to renewable energy, is essential for long-term development. The preservation and enhancement of biodiversity, both terrestrial and aquatic, is essential to protecting our planet. The fight against climate change has become a global struggle with the signing of the Paris Agreement, ratified by all countries of the Indo-Pacific space. On these subjects, France brings its expertise and its financing. From Reunion Island to Indonesia, via India and Vietnam, the French Development Agency provides significant funding and international expertise for the development of renewable energies: solar, wind, hydroelectric. France also contributes to the sustainable development of the blue economy, particularly in Indonesia, where it is financing initiatives to combat illegal fishing, improving the performance of seaports, marine meteorological capabilities and soon ocean research and management of plastic waste at sea.
  • Economic cooperation: This axis, closely linked to the sustainable development agenda, aims to develop and improve connectivity and physical and digital infrastructure in a region where the needs are immense. French companies can play an important role in the connectivity of the region, particularly in maritime transportation, port, airport and road infrastructure, satellite and submarine cable telecommunications. Their experience with concessions and public-private partnerships allow them to offer innovative financing solutions.

This economic aspect also involves the development of vocational and/or university training and research, contributing to the strengthening of human capital. In Indonesia, the creation of a center of excellence for vocational training in the fields of electricity, automation and renewable energy is a pioneering model of public-private partnership and is expected to train 500 teachers and more than 100,000 students by 2022.

Last, France supports high-level scientific research and technological innovation, through sustainable cofinancing mechanisms (Nusantara program) and nearly 100 interuniversity agreements for dual degree and diploma programs.

This cooperation, which concretely materializes our commitment in the Indo-Pacific, is accompanied by increased involvement in regional organizations: in the Indian Ocean, the Indian-Ocean Rim Association, of which France has been a partner country since 2001, the Heads of Asian Coast Guard Agencies Meeting in which France has participated in as an observer for the first time this year; and the Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia, which we want to join.

On the Pacific side, France has been a member of the Pacific Islands Post-Forum Dialogue since 1989 and founding member of the Pacific Community.

In that respect, ASEAN plays a central role for France in this strategy. Our country was one of the first signatories of the Treaty of Amity and Cooperation signed in Bali. More than 150 projects have been supported and 4 billion euros of funding have already been provided by the French Development Agency since 2010 for the sustainable development of ASEAN.

We now wish further consolidate our ties with ASEAN, as shown by our admission as an observer to the ASEAN Chiefs of National Police (ASEANAPOL), as well as our applications for ASEAN development partner status and observer status at the ASEAN Defense Ministers’ Meeting in the working groups on maritime security and peace-keeping operations.

Our convergent interests, particularly in the maritime sector in the broad sense, in terms of connectivity and infrastructure, and sustainable development, call for closer cooperation between France and ASEAN countries in the framework of the ASEAN Outlook on the Indo-Pacific adopted at the end of June 2019 at its 34th summit.

The challenges facing this space today call for more collective action, international cooperation, multilateralism, as well as a global vision, as the responses that can be given to them are interdependent. This is the meaning of the French strategy in the Indo-Pacific. In this fundamental space for global stability, France and Indonesia must act together.

Diterbitkan pada 15/01/2020

Kembali ke atas