Semangat 14 Juli menjiwai hubungan antara Perancis dan Indonesia [fr]

Tahun ini, untuk pertama kalinya sejak akhir Perang Dunia II, Avenue des Champs-Elysées di Paris tidak akan diramaikan oleh parade militer untuk menyambut Hari Nasional Perancis pada tanggal 14 Juli. Mengingat situasi luar biasa yang kini terjadi, Presiden Emmanuel Macron ingin agar perayaan tahun ini dipersembahkan sebagai penghormatan bagi mereka yang ikut serta dalam perang melawan Covid-19 di seluruh dunia. Melalui pilihan tersebut, Perancis ingin menunjukkan solidaritasnya terhadap para mitra Eropa dan internasional yang terdampak krisis kesehatan ini.

Indonesia merupakan mitra penting Perancis di kawasan Asia Tenggara. Kedua negara kita terikat tali persahabatan yang diperkuat lagi pada tahun 2011, dalam bentuk kemitraan strategis yang didasari nilai-nilai yang dianut bersama, yakni demokrasi, hak asasi manusia, toleransi dan pluralisme, serta konsep tatanan internasional yang terjamin dan bersandar pada hukum. Hingga saat ini kita bersama-sama terus mengupayakan agar nilai-nilai dan jalinan tersebut semakin kuat dan erat.

Demi menghadapi perkembangan tantangan globalisasi, perdamaian dan keamanan, apakah mengenai perlawanan terhadap perubahan iklim, pemberantasan terorisme, radikalisme dan ekstremisme, perlucutan senjata, non-proliferasi senjata pemusnah massal, maupun tantangan kesehatan, kedua negara kita mengakui peran pokok yang dimainkan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga-lembaga multilateral internasional lainnya.

Di kawasan Indopasifik, Perancis dan Indonesia mempromosikan visi yang sama, yakni sebuah ruang inklusif dan terbuka, di mana Perancis ingin ambil bagian dalam upaya-upaya untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan kawasan, dengan meningkatkan kemitraannya dalam tiga sektor : kerja sama maritim, konektivitas dan pembangunan berkelanjutan (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) yang sepenuhnya sejalan dengan prioritas Indonesia dan ASEAN, sebagai pemain utama arsitektur regional.

Krisis Covid-19 yang sulit diduga, mematikan dan berlangsung lama menyadarkan kita bahwa untuk menghadapi sebuah pandemi, tindakan kolektif adalah satu-satunya respons yang efektif. Penguatan multilateralisme dan kerja sama internasional sangat diperlukan, seperti yang dilakukan dengan penuh kesungguhan oleh Perancis dan Indonesia, agar kita dapat mencegah dan mengatasi krisis-krisis di masa mendatang dengan lebih baik.

Ini merupakan proyek yang ambisius dan menuntut, yang harus digerakkan oleh nilai-nilai bersama. Untuk itu, semangat 14 Juli yang kita rayakan di seluruh Perancis dapat memberikan dorongan pada gelora ini. Pada tahun 1789, nenek moyang kami berkeyakinan bahwa kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan harus membimbing seluruh umat manusia. Bahwa cita-cita ini akan memiliki makna seutuhnya apabila berlaku bagi siapa saja, melampaui batas-batas negara. Universalisme dari republik saat itu sedang berjalan dan dejarah menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut menyatukan kita, terutama di masa-masa yang sulit.

Seperti yang digarisbawahi Presiden Macron, situasi saat ini menuntun kita untuk mengubah diri, menjadi berani dan kreatif, kalau tidak, kegagalan mengintai. Itulah sebabnya Perancis bertekad menjalankan rekonstruksi baik di bidang ekonomi, ekologi, maupun sosial. Perancis didukung oleh Uni Eropa yang juga mengambil kebijakan yang belum pernah ada sebelumnya, terutama melalui rencana alokasi dana sebesar 540 miliar Euro untuk pemulihan ekonomi. Bersama para mitra Eropa kami, Perancis sedang mendukung rencana dana stimulus yang ditujukan untuk mendukung pemulihan tersebut, dan nilainya dapat mencapai 750 miliar Euro. Selain itu ada pula rencana pembelian utang kembali oleh Bank Sentral Eropa, sebesar 1.450 miliar Euro.

Dengan demikian, Perancis telah mengambil kebijakan ambisius guna menghadapi krisis, dengan program penyelamatan senilai 5% dari PDBnya dan 315 miliar Euro dana jaminan untuk dunia usaha. Selain itu ada pula program khusus untuk sektor kedirgantaraan, industri otomotif, pariwisata dan sebuah program pemulihan ekonomi yang akan disampaikan pada musim gugur oleh pemerintah Perancis yang baru. Tantangan yang paling utama adalah mempertahankan instrumen produksi yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan pesat begitu krisis kesehatan teratasi.

Sebagai anggota G20, Perancis dan Indonesia bekerja sama untuk menemukan respons yang terkoordinasi, demi memulihkan perekonomian dunia, perdagangan dan pasar modal yang sudah terpukul oleh perang dagang antara dua negara kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Sebanyak 200 anak perusahaan Perancis yang berada di Indonesia tetap hadir selama krisis ini dan akan meneruskan investasi mereka. Mereka dapat memberikan banyak tawaran di berbagai sektor baru pasca Covid-19, terutama di sektor kesehatan dan digital. Guna mempermudah pemulihan ekonomi, perundingan antara Indonesia dan Uni Eropa dalam rangka tercapainya sebuah kesepakatan perdagangan bebas (UE-CEPA) menjadi sangat penting, lebih dari sebelumnya.

Perancis merupakan pemberi bantuan bilateral terbesar ketiga bagi Indonesia. Bank pembangunan kami, Badan Perancis untuk Pembangunan (AFD) telah menawarkan komitmen pendanaan sebesar 110 juta USD untuk mendukung upaya Indonesia dalam pemberantasan Covid-19, dan kami siap untuk berbuat lebih banyak lagi dengan menggunakan beragam instrumen pendanaan kami.

Di sini juga, adaptasi akan menjadi kata kunci, di semua sektor. Perancis seperti halnya Indonesia, dapat membanggakan industri budayanya yang kuat, dan dunia seni yang dinamis. Meskipun terjadi krisis kesehatan yang menyebabkan keempat Institut Perancis (IFI) dan 2 Alliance Française di Indonesia ditutup bagi publik, ratusan murid di Indonesia tetap dapat mengikuti kursus-kursus baru yang diselenggarakan secara daring, dan masyarakat laus tetap dapat menikmati kegiatan-kegiatan budaya melalui media digital, seperti misalnya Pesta Musik baru-baru ini.

Selain itu, antara tanggal 2 dan 15 November mendatang, sebagai rangkaian perayaan 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Perancis, proyek “vIDeo//heritage.fr” akan mempersembahkan sebuah pameran multimedia yang ambisius secara serentak, dari enam monumen simbolik di enam kota Indonesia (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Ubud). Sejumlah videografer Indonesia dan Perancis berkolaborasi dalam proyek ini yang rencananya akan diresmikan dari Museum Asia Afrika di Bandung, sebuah tempat bersejarah bagi Republik Indonesia

Di sektor pendidikan, SMA Labschool Cibubur membuka kelas dwibahasa Perancis- Indonesia pertama pada tahun ajaran baru ini. Selain mengikuti kurikulum Indonesia, para murid akan menerima pelajaran bahasa Perancis dan satu mata pelajaran ilmiah akan disampaikan dalam bahasa Perancis. Pada akhir masa sekolah menengah atas kelak, para murid kelas dwibahasa ini sudah siap untuk menempuh pendidikan tinggi di bidang ilmiah baik di perguruan tinggi di Indonesia maupun di Perancis. Semoga di masa mendatang jumlah kelas dwibahasa Indonesia – Perancis semakin banyak. Perancis juga berkomitmen untuk mendukung secara aktif program baru “Kampus Merdeka” yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang memungkinkan para mahasiswa Indonesia mendapatkan pendidikan dan pengajaran inovatif yang diarahkan pada teknologi baru. Dengan demikian Perancis turut berkontribusi dalam reformasi sumber daya manusia yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi.

Kekayaan hubungan antara Indonesia dan Perancis juga terlihat di berbagai bidang lainnya, seperti riset ilmiah, pertanian maupun arkeologi, di bidang pertahanan dan juga keamanan. Tahun ini, pada kesempatan peringatan 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Perancis, momentum baru diberikan kepada kemitraan strategis kita dan kedua negara terikat erat untuk memenuhi tantangan nasib kolektifnya, digerakkan oleh nilai-nilai bersama dan semangat universal 14 Juli. Saya yakin bahwa manfaat yang kita rasakan masing-masing akan sesuai dengan harapan kita.

Diterbitkan pada 11/09/2020

Kembali ke atas